(mencari jodoh di jam makan siang 3)
Sebuah ledakan Aku rasakan. Siang itu, di sebuah resto, seorang laki-laki telah memanah hatiku. Aku tak mampu menahan emosi cinta di dada. Perasaanku menggebu, berada disampingnya menjadi dambaanku.
Sebuah resto yang menyajikan masakan khas Sunda, baru saja hadir di kota kelahiran ku, Palembang. Promosi tentang sedapnya masakan yang disajikan resto tersebut telah beredar dari mulut ke mulut. Beberapa teman yang sudah berkunjung ke sana merekomendasikan padaku.
Ada yang bilang, tempatnya sangat nyaman, rasa masakanya yang pas dengan lidah, dan tidak kalah santer terdengar, harganya yang tidak merobek kantong. Semuanya positif. Aku pun terbujuk untuk datang.
Satu hal yang Aku suka, seorang teman bilang pengunjung resto itu cukup ramai dari kalangan eksekutif muda. Woww, siapa tahu ada yang pas di hati.
Berbekal berbagai rekomendasi dari teman, Aku menuju resto yang berlokasi di pinggiran kota itu. Aku sengaja mengambil jalan alternatif agar tidak terjebak kemacetan. Aku terkadang tidak sabar dengan kemacetan.
Lahan parkir yang cukup luas membuat pengunjung resto lebih nyaman memarkir kendaraan. Dua orang laki-laki menghampiri dan mempersilahkan Aku masuk ke resto yang diteduhi pohon pelindung itu.
Seorang laki-laki yang usianya (Aku mencoba menerka) sekitar 35 tahun menyapa. Pria berkacamata dengan postur tubuh tegap. Mengenakan kemeja batik warna coklat, penampilannya terkesan bersih dan rapi.
Sejenak Aku tertegun. Aku kembali menerka, laki-laki itu adalah manajer di resto ini. Ya, sepertinya. Setiap tamu yang datang di sapa dengan ramah. Entah tamu itu mengendarai mobil, sepeda motor atau naik angkot. Semua diperlakukan sama.
Aku mengambil tempat duduk di meja samping kiri tempat duduk-kalau boleh Aku sebut-“pria penerima”. Sesuai dengan anjurannya.
Rasanya tidak salah, dari sini Aku bisa mengamati gerak geriknya dengan leluasa. Berkali-kali Aku mengawasinya.
Entahlah. Aku sendiri tidak bisa menahan rasa ingin tahu siapa sosok “pria penerima tamu” itu. Aku memutar kembali memoriku. Aku merasa begitu dekat dengan “pria penerima tamu”. Menurutku, Aku sudah pernah bertemu dengannya sebelum ini. Dimana dan kapan, itulah yang kini Aku telusuri.
Belum juga ketemu “file”nya, Aku menghirup kuah sop yang sudah tersaji di meja. “Ehmmm………” sedap sekali kata ku dalam hati. Opini rekan-rekan tentang resto ini tidak ada yang meleset. Keramahan pelayanan, kenyamanan dan kelezatan makanannya terbukti. ueenakkk
Aku semakin penasaran untuk mencari tahu identitas laki-laki “penerima tamu”. Tapi, Aku belum juga mendapatkanya. Salah satu cara yang mungkin Aku lakukan adalah bertanya langsung ke orangnya. Namun ada ketakukan di hatiku. Aku tidak ingin dikira wanita genit. Apalagi kalau ternyata “pria penerima tamu” itu sudah beristri. Bisa-bisa Aku di kira menggodanya.
Jus jeruk di gelas tidak seteguk lagi. Itu tandanya Aku harus segerah mengangkat pantat dari kursi makan. Rasa keingin tahuanku belum juga reda. Bahkan sangat menggebu. “Siap pria penerima tamu itu,” tanyaku.
Aku mencoba meredupkan rasa keingintahuanku. “Mungkin belum hari ini. Besok atau lusa Aku masih bisa datang lagi. Resto ini tentunya mengharapkan kedatangan pelanggan terus menerus,” kataku dalam hati…………………..

jatuh cinta nih…..
Berjutaa rasanya!
salam kenal
Belum jodohnya. Jangan menyerah.. Keep fighting
Salam kenal
http://peacelover04.blogdetik.com/2009/11/30/ada-cinta-di-sindoro/
pengen tahu yah?
itukan aku :-D…..