Kok! Mesin ATM Lebih Ramah

Filed Under (CERITA) by darmawan on 11-11-2009

Tagged Under : , , , , , ,

Hari ini, Saya mendapat pengalaman baru. Seperti biasa, sekitar pertengahan bulan Saya menjalankan rutinitas bulanan membayar berbagai tagihan.

Untuk membayar tagihan itu Saya melalui loket atau mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Kenapa melalui loket? Karena loketnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Saya, selain itu setiap hari Saya dipastikan melewati loket tersebut. Meskipun terkadang ada antrean, tidak terlalu panjang.

Kenapa melalui mesin ATM? Alasannya lebih praktis, selain itu pembayaran hanya bisa dilakukan melalui mesin ATM.

Perbedaan yang sangat kontras Saya rasakan di kedua tempat pembyaran itu. Pertama Saya datang ke sebuah loket, bukti pembayaran bulan lalu saya tumpuk di tempat yang sudah disediakan. Waktu itu ada empat atau lima orang yang antre, tiba waktunya nama Saya dipanggil petugas loket perempuan.
“Pak Rappi Darmawan, Rp 138.000,” sebut petugas tersebut.

Saya pun langsung mengiyakan, berdiri dan mengeluarkan uang dari dompet. Saya tidak langsung menyerahkan uangnya, karena bukti pembayaran belum dicetak. (Saya khawatir uangnya hilang karena banyak orang).

Beberapa saat Saya berdiri di depan lobang untuk menyodorkan uang. Agak lama Saya pun menanyakan ke petugas laki-laki. Saya kaget, petugas berkulit hitam legam itu menjawab “Bayar dulu Pak, baru rekeningnya di cetak,” ujarnya dengan ketus.

Saya mencoba memberitahu petugas itu agar lebih sopan. Namun, bukannya minta maaf petugas tersebut malah menantang Saya untuk melaporkan ke atasannya. Bahkan mengajak Saya berkelahi. Duhhhh, untung Saya sadar bahwa berkelahi tidak ada gunanya.

Rutinitas membayar tagihan belum berakhir. Masih ada satu lagi yang harus dibayar. Saya pergi ke mesin ATM milik sebuah bank. Begitu tiba, terasa sekali perbedaanya. Di depan pintu tulisan yang sangat sopan menyapa “silahkan tarik”.

Pintu ATM yang bisa otomatis tertutup Saya buka. Udara sejuk dari penyejuk ruang menerpa kepala Saya yang panas. Rasanya adem sekali.

Saya pun mengeluarkan kartu ATM, di layar mesin ATM seuntai kalimat tertulis “Selamat Datang………………….”. “Silakan masukan kartu ATM Anda”. Kata-katanya sangat sopan, singkat dan jelas.

Usai melakukan pembayaran, secarik kertas yang masih hangat keluar. (Seperti secangkir kopi, tentu yang hangat lebih sedap di hirup). Ucapan terima kasih pun tertulis disana. Mengingatkan, agar tidak ada yang tertinggal mesin ATM terus berbunyi (tittt, tittt, titt……..) manakala Saya belum mengambil kartu ATM milik Saya.

Saya jadi berpikir “kok mesin ATM lebih sopan dari manusia”. Apakah tidak ada lagi cinta kasih dalam diri manusia? Padahal, manusia yang mempunyai hati nurani dan pikiran. Salam


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Comments:

Post a comment