Om Jay Lelaki Hebat
Filed Under (KISAH ASMARA) by darmawan on 18-12-2011
Tagged Under : apartemen, cinta, ibu, om jay
(lanjutan Juice Lady Escort)
Pagi yang cerah. Sinar matahari menerobos masuk ke dapur mungil di apartemen ku. Pas pada wajah ku yang sedang asyik menggoreng telur mata sapi untuk sarapan.
Aku bangun pagi hari ini. Jarang sekali aku bisa bangun pagi. Maklum saja, aku baru pulang kerja dini hari. Tapi semalam aku memang tidak masuk kerja, lagi libur.
“Uhuuuu, telur mata sapinya sudah siap. Saatnya sarapan,” ujar ku. Aku pun mulai menyuap nasi putih ditaburi bawang goreng dan potongan telur mata sapi ke mulut yang dilumuri kecap manis. Tak lupa teh manis hangat. Ini menu sarapan favoritku. Mudah dibuat tapi gizinya juga ada.
Sendiri di apartemen aku jadi teringat Om Jay. Bagiku Om Jay adalah lelaki hebat. Kehadiran Om Jay, telah membuat pandangan ku tentang sosok laki-laki sedikit lebih baik. Sebelumnya aku memang sedikit trauma dengan mahluk yang namanya laki-laki.
Aku terlahir dalam keluarga yang tidak begitu jelas. Hingga sekarang Aku tidak pernah tahu siapa ayahku. Ibuku masih merahasiakannya. Berulang kali aku bertanya, ibu semakin rapat menyimpannya.
Aku tidak tahu pasti kenapa ibu merahasiakannya. “Tidak perlu bertanya lagi siapa ayah mu, tanpa ayah mu ibu sudah bisa membesarkan kamu,” ketus ibu ketika aku bertanya.
Sikap ibu itu membuat aku menjadi benci dengan laki-laki. Aku beranggapan ibu sangat membeci laki-laki itu, sehingga tidak ada sedikit pun ruang dibenaknya untuk menyimpang kenangan bersama laki-laki yang telah menebar benih dirahimnya sebelum aku terlahir.
Kebencian ku terhadap mahluk yang sering digambarkan dengan tubuh yang tegap dan kekar itu bertambah ketika suatu hari ibu bercerita tentang hidupnya. Ibu sudah menikah delapan kali. Kini tinggal bersama suaminya yang ke delapan. Kisah ibu, suami pertamanya seorang tentara. Ibu benar-benar mencintai suaminya itu.
Ibu menikah diusia muda. Kala itu masih berumur 22 tahun. Pernikahan ibu dengan suami pertamanya bertahan selama tiga tahun. Mereka sangat mendambakan seorang anak, namun keinginan tersebut tidak jua kesampaian hingga usia ketiga tahun pernikahan mereka.
Persoalan tersebut sering kali menjadi pemicu pertengkaran antara mereka. Ibu selalu dipersalahkan. Dibilang wanita mandul dan diperlakukan kasar. Akhirnya mereka berpisah.
Tidak lama berselang setelah perceraiannya dengan suami pertama. Ibu menikah lagi. Kali ini dengan seorang wiraswastawan. Secara ekonomi ibu bisa hidup lebih baik. Semua kebutuhan ibu terpenuhi. Namun, dibalik kemewahan yang diraihnya itu, bathin ibu tersiksa.
Suami kedua ibu seorang yang mania seks. Ibu tersiksa karena harus melayani nafsu seks suaminya yang teramat besar itu. Perceraian pun diambil ibu untuk bebas dari penderitaan bathin.
Dua kali gagal dalam membina rumah tangga, Ibu mulai limbung. Ibu seakan kehilangan jati dirinya. Ibu mencari pelarian dan mencoba menghibur diri dengan pergi ketempat-tempat hiburan. Untungnya ibu masih punya banyak tabungan dari pemberian suami keduanya.
Pergaulan bebas telah mengenalkan ibu kepada banyak laki-laki. Ada yang cuma ingin bersenang-senang, ada juga yang serius. Ibu kembali menemukan lelaki idamannya, disaat keterpurukannya. Mereka menikah dibawah tangan (siri), namun gagal lagi. Hingga pernikahan dengan suaminya yang sekarang ini, ibu sudah menikah delapan kali.
Apakah diantara delapan laki-laki itu, satu diantaranya adalah ayah ku? ibu tidak pernah membenarkan pertanyaan ku itu. Ibu juga tidak pernah memberitahuku nama dan alamat delapan laki-laki yang telah menikah dengannya. Ingin aku bertanya kepada delapan laki-laki itu, apakah aku anak mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat aku sering bertengkar dengan ibu? Suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara aku dan ibu. Aku benar-benar down, kala itu. Aku sempat tidak ingin pulang kerumah, dan hidup diluar. Beruntung aku bertemu dengan Om Jay.
Menurut Om Jay, aku ditemukannya dipinggir jalan ditengah malam buta. Kala itu kondisi ku tidak sadarkan diri. Om Jay membawa aku ke sebuah hotel. Siangnya Om Jay kembali ke hotel mengurus aku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan aku tanpa pertolongan Om Jay.
Terima kasih Om Jay.
(bersambung)









